Well, rasanya emang kurang penting nulis ini sekarang. Disaat sedang banyak-banyaknya praktikum dan laporannya, serta pekerjaan rumah beserta midterm exam-nya. Tapi entah mengapa, aku ingin sekali menulis ini sekarang juga..
Mitra 2 adalah sebuah department store yang terletak di Jalan Letjen Sutoyo Malang. Aku sudah mengetahui nama Jalan Letjen Sutoyo itu bahkan dari kecil, semenjak dari aku mulai bisa baca, tepatnya ketika aku berusia 4 tahun. Walaupun dari sisi navigasi aku tidak tahu dimana Jalan Letjen Sutoyo itu, yang aku tahu di salah satu sisi kiri jalan tersebut (jika dari arah Blimbing), ada sebuah bangunan besar dengan 4 lantai.. Ya, bangunan itu adalah Mitra 2. Berdiri pada tahun 1992, Mitra 2 merupakan tujuan belanja utama masyarakat Malang pada era 90-an, termasuk aku dan keluargaku (mama dan mas/kakak lelaki). Pada saat itu, Mitra 2 memang mall/department store yang paling cihui di Malang. Siapa sih yang nggak tahu Mitra 2?
Aku tumbuh bersama Mitra 2. Hmm bukan dalam artian ‘bersama’ sebenarnya sih. Maksudnya, dari kecil dulu, semenjak aku ngerti kalo diajak-ajak, mama paling sering ke Mitra 2 untuk belanja bulanan. Kita berangkat kesana bertiga. Mulai dari dulu awalnya naek angkot, naek motor bonceng bertiga (cukup lho! Hehe), naek taksi, sampe akhirnya punya mobil sendiri. Kami bertiga biasa berangkat siang dan akan berada disana hingga sore, atau berangkat sore dan pulang ketika Mitra 2 hampir tutup. Tempat pertama yang biasa mama tuju adalah supermarketnya, untuk membeli bermacam-macam kebutuhan rumah tangga sebulan ke depan. Biasanya begitu sampe kasir, mama bakalan ngomel-ngomel karena banyak barang-barang belanjaan yang mamaku ga ngrasa ngambil, tapi tiba-tiba kok ada di trolley. Ya, itu adalah ulah ku dan mas. Kita suka diam-diam menaruh makanan-makanan kecil dan permen-permen, seperti jipang dan pes bon bon, ke dalam trolley. mas juga suka menyelipkan majalah otomotif yang waktu aku kecil pun harganya udah 30ribu. entah sekarang harganya berapa. aku dan mas juga suka sekali memaksa mama untuk membelikan kaset2, mulai dari kaset Enno Lerian, Trio Kwek2, album rohani cilik, sampe Westlife dan Britney Spears.
Seusai berbelanja di supermarket, dengan bawaan 4-5 tas kresek besar, biasanya kita akan langsung menitipkannya di tempat penitipan barang tepat di bawah escalator lantai 1 karena masih banyak tempat di Mitra 2 yang akan kami kunjungi, biasanya sih bagian sepatu di lantai 3. Atau tempat kerajinan menyulam tangan dan peralatan rumah tangganya yang berada di lantai 1,5. Aku dulu paling enggak suka kalo disuruh ngantri di kasir. karena menurut aku mbak-mbak kasirnya galak dan suka pilih-pilih orang yang dilayani. Waktu kecil dulu emang penampilanku buluk, aku item kurus dekil, sehingga wajar saja kalo mbak-mbak kasirnya lebih memilih melayani ibu-ibu menarik dengan tampilan perlentenya (dulu sempet belum ada line buat antri jadi semacam berebut).
Dan ketika acara belanja bulanan ini berakhir, mama dibantu satpam sibuk mencari taksi untuk pulang, sementara aku dan mas disuruh menunggu belanjaan di tangga masuk utama Mitra 2.
Beranjak ketika SMP, aku disekolahin yang agak jauh dari rumah sehingga aku mulai mengenal bermacam angkot di Malang dan rute-rutenya. Maklum, waktu SD sekolahku berada dekat dengan rumah sehingga angkot yang aku gunakan cuma PBB saja dan aku tidak pernah naik PBB lebih jauh dari SD ku itu. Untuk menjangkau SMP ku, SMP 3 Malang, angkot yang aku gunakan untuk berangkat maupun pulang sebagian besar akan melewati Mitra 2, seperti AG, ADL, GA, atau TST. Sehingga tak jarang sepulang sekolah aku akan berhenti mampir ke Mitra 2, bisa untuk liat-liat saja, cari kado, atau makan di foodcourt dan KFC. Entah kenapa, sebelum pulang kerumah, aku suka sekali mampir dulu kesana kalau sedang stress dengan urusan sekolah. Mungkin karena dari kecil saya sudah sering kesana, jadi terasa familiar. Paling sering kesana buat belajar dan mengerjakan PR bareng Kanya di KFC, yang kebetulan Kanya ini arah pulangnya sama denganku. Kami gak selalu punya banyak uang untuk beli makan disana, jadi paling sering kami cuma beli eskrim dan akan duduk di KFC untuk mengerjakan PR dalam waktu yang lama. Sesudah nya, kami suka mampir ke Gramedia untuk melihat buku-buku beserta harganya, dan merencanakan sedikit demi sedikit menabung untuk membeli buku yang kami inginkan. Walaupun kebiasaan aku dan Kanya ini bermula ketika kami sekelas ketika kelas 2 SMP, kami tetap melakukan rutinitas belajar bersama di KFC bahkan ketika kami sudah tidak sekelas lagi. Sayangnya, waktu SMA kami tidak bersama lagi. Aku di SMA 3 Malang, sedangkan dia di SMA 5 Malang. Dan kami tidak pernah melakukan rutinitas yang sering kita lakukan bersama dulu itu. Beruntung SMA ku masih searah dengan Mitra 2, rute menuju SMA ku dari rumah mirip dengan rute menuju SMP ku hanya saja lebih jauh sedikit. Jadi terkadang aku masih sering mampir ke Mitra 2 sepulang sekolah, dan tidak sengaja terkenang masa semangat-semangatnya mengerjakan PR di Mitra 2 dan betapa lucunya kami dulu yang sangat ingin makan paket-paket mahal di KFC tapi cuma bisa ngiler melihat harganya. Maklum, berapa sih uang jajan anak SMP? Hehe. Di SMA, aku memiliki beberapa sahabat dekat, salah satunya Fenty, yang memiliki rute pulang searah denganku. Dan kebetulan sekali dia juga suka mampir ke Mitra 2 dan juga memiliki semacam keterikatan dengan Mitra 2, sama sepertiku, sehingga tak jarang ketika kita pulang bersama, kita akan mampir sebentar untuk membeli es krim, dan akan melanjutkan pulang. Aku juga masih suka mampir sendiri kesana sepulang sekolah dan akan melihat-lihat atau membeli sesuatu jika merasa stress dengan rutinitas akademisku.
Yah, kira-kira begitu keseharianku dulu bersama Mitra 2..
Hingga akhirnya masa kejayaan mitra 2 mulai meredup sejak dibangunnya Plaza Araya di daerah perumahan elit Araya, dan Dieng Plaza di daerah Dieng.
Aku masih ingat sekali bagaimana ramainya Mitra 2 di masa kejayaannya dulu, ketika di akhir pekan aku dan mama harus berangkat agak pagi supaya dapat parkir disana, atau kami akan mencari parkiran di factory outlet-factory outlet sekitar Mitra 2, yang juga biasanya penuh gara-gara banyak orang bernasib serupa dengan kami yang ingin ke Mitra 2 tapi tidak mendapat tempat parkir. Mitra 2 yang awalnya dulu hanya menjual kebutuhan sandang pangan papan dan beberapa kebutuhan rumah tangga, mulai ekspansi dengan menambahkan Gramedia di lantai 3 serta Timezone dan Johny Andrean di lantai 4. Aku ingat sekali gimana ramainya Timezone itu di akhir minggu, dan betapa ngantrinya untuk potong rambut di Johny Andrean. Beberapa tahun kemudian, entah apa sebabnya, Johny Andrean sudah tidak membuka gerai disitu lagi, dan ketika aku main di Timezone, Timezone terlihat sepi tidak seperti dulu lagi. Dan beberapa waktu kemudian, Timezone itu dipindahkan ke lantai 1 Mitra 2, dan akses menuju lantai 4 pun ditutup. Aku kira ada semacam perbaikan, ternyata hingga Mitra 2 ditutup, selamanya lantai 4 itu tidak pernah dibuka dan dikembangkan lagi. Beberapa saat kemudian Gramedia juga ikutan pindah dari Mitra 2, dan selama beberapa waktu tempat bekas Gramedia itu sempat kosong dan ditutup, yang agak lama kemudian diganti Kharisma. Kharisma terlihat selalu sepi setiap aku datang kesana. Bukan hanya Kharisma, tapi Mitra 2 secara keseluruhan terlihat mulai sepi, apalagi semenjak keberadaan Matos dan MOG.
Menurut aku, walaupun sepi, Mitra 2 itu seperti sudah memiliki pengunjung tetap seperti aku, mama, beberapa anggota keluargaku, beberapa temanku atau mungkin juga anda, dimana kita sendiri memiliki semacam keterikatan dan rasa familiar pada Mitra 2 yang membuat kami tetap menjatuhkan pilihan untuk berbelanja disana, di tengah-tengah booming-nya Matos yang bisa disebut sarana belanja dan jalan-jalan yang ‘wah’ di Malang pada saat itu, disusul kemudian oleh MOG.
Sayangnya, beberapa tahun kemudian, sekitar akhir tahun 2010, Mitra 2 ditutup. Sedih aja sih rasanya.

